Ciptaan sebagai Korban Utama Perang: Krisis Perang AS-Iran dan Keluhan Bumi
Ketika Teluk Terbakar dan Langit Jadi Gelap
Pada 31 Maret 2026, sebuah kapal tanker minyak raksasa milik Kuwait, Al-Salmi, terbakar di perairan Dubai. Kapal itu membawa sekitar dua juta barel minyak mentah. Api berhasil dipadamkan sebelum menyebar. Tetapi Greenpeace telah memperingatkan sejak awal Maret: lebih dari 85 tanker besar tengah terjebak di Teluk Persia, membawa setidaknya 21 miliar liter minyak, di tengah serangan rudal dan drone yang terus berlangsung di tengah perang AS-Iran yang terus berkecamuk. Ini adalah “bom waktu ekologis,” kata para ilmuwan lingkungan. Satu tanker bocor saja sudah cukup untuk menghancurkan terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun yang telah tumbuh selama ribuan tahun di perairan Selat Hormuz.
Perang AS-Israel terhadap Iran, yang dimulai pada 28 Februari 2026, kini telah memasuki bulan kedua. Serangan udara masih berlangsung di Tehran dan Isfahan. Gelombang serangan ke-87 Iran telah diluncurkan dalam satu bulan, menyasar infrastruktur energi dan pelabuhan sipil di berbagai negara Teluk. Lebih dari 300 insiden telah teridentifikasi oleh para peneliti lingkungan, termasuk serangan terhadap rumah sakit, kilang minyak, dan situs penyimpanan, mencakup setidaknya 26 dari 31 provinsi di Iran. Kapal frigate Iran yang ditenggelamkan di dekat pantai Sri Lanka meninggalkan tumpahan minyak sepanjang 20 kilometer yang kini mengancam kawasan ekologis penting di sepanjang pantainya.
Namun, hampir semua wacana tentang perang ini, baik dari Washington, Tehran, maupun media internasional, berputar di sekitar satu poros saja: manusia melawan manusia. Nuklir. Rezim. Kepentingan nasional. Dalam narasi itu, Teluk Persia dengan terumbu karangnya, burung-burung migran yang melintasi Selat Hormuz, komunitas nelayan di pesisir Oman dan Iran, padang lamun yang menjadi tempat bertelur penyu, semuanya sekadar latar belakang yang diam.
Iman Kristen harus menolak keheningan itu.
Bumi yang Kembali ke Kekosongan
Nabi Yeremia, dalam sebuah penglihatan yang mencengangkan, menulis tentang apa yang terjadi ketika kekerasan manusia dibiarkan merajalela (Yeremia 4:23-28):
“Aku melihat kepada bumi, ternyata campur baur dan kosong, dan melihat kepada langit, tidak ada terangnya. Aku melihat kepada gunung-gunung, ternyata goncang; dan seluruh bukitpun goyah. Aku melihat, ternyata tidak ada manusia, dan semua burung di udara sudah lari terbang. Aku melihat, ternyata tanah subur sudah menjadi padang gurun, dan segala kotanya sudah runtuh di hadapan TUHAN, di hadapan murka-Nya yang menyala-nyala! Sebab beginilah firman TUHAN: “Seluruh negeri ini akan menjadi sunyi sepi, tetapi Aku tidak akan membuatnya habis lenyap. Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.”
Frasa yang digunakan Yeremia untuk menggambarkan kondisi Bumi setelah kekerasan adalah tohu wabohu, dua kata yang hanya muncul bersama dua kali dalam seluruh Alkitab Ibrani. Kemunculan pertama ada di Kejadian 1:2, menggambarkan keadaan sebelum penciptaan: “Bumi belum berbentuk dan kosong.” Di sana, tohu wabohu adalah titik awal sebelum Allah berfirman dan memisahkan, membentuk, menghidupkan.
Di Yeremia 4, kata yang sama muncul kembali, akan tetapi dengan arah yang terbalik. Ini bukanlah penciptaan, melainkan penghancuran. Kekerasan manusia telah membalikkan karya Allah: dari keteraturan menuju kehancuran, dari kehidupan menuju kekosongan. Nabi melihat Bumi, gunung-gunung, langit, dan burung-burung, dan semuanya terdampak. Tidak ada satu pun anggota ciptaan yang dikecualikan dari penderitaan yang ditimbulkan oleh dosa manusia.
Inilah yang jarang kita dengar dalam liputan perang: bahwa ciptaan bukan hanya konteks di mana manusia berperang. Ciptaan adalah korban pertama perang.
Teluk Persia dan Logika Imperial yang Melukai Semesta
Teluk Persia adalah salah satu ekosistem laut paling rentan di planet ini. Selat Hormuz dan perairan sekitarnya adalah rumah bagi ekosistem sensitif seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun yang menjadi habitat vital bagi berbagai spesies. Selain sebagai jalur perdagangan, selat ini juga adalah satu-satunya jalur maritim antara Teluk Persia dan Laut Arab yang berperan penting dalam pertukaran air dan nutrisi serta sebagai rute migrasi mamalia laut.
Namun, ekosistem ini tidak pernah diberi suara dalam perundingan nuklir di Oman, Jenewa, atau Wina. Di meja negosiasi perang AS-Iran ini tidak ada perwakilan terumbu karang yang duduk bersama. Tidak ada advokat hutan mangrove yang dipanggil ke briefing Kongres AS. Tidak ada suara burung migran baik dalam pidato Trump maupun dalam respons IRGC.
Inilah yang disebut dalam kerangka ekoeklesiologi Suar Suaka sebagai dualisme antagonistik yang menempatkan manusia (negara-negara besar, kepentingan geopolitik, pasar minyak) sebagai satu-satunya subjek moral yang relevan, sementara seluruh anggota ciptaan lainnya direduksi menjadi kerusakan kolateral yang tidak perlu diperhitungkan.
Risiko yang ada tidak hanya bersifat regional. Ancaman terhadap kapal-kapal tanker menciptakan bahaya tumpahan minyak besar-besaran, sementara kondisi konflik membatasi kapasitas respons darurat. Perikanan regional yang sudah tertekan bisa mengalami keruntuhan berkepanjangan, menghancurkan mata pencaharian komunitas-komunitas pesisir. Para nelayan di pantai Oman, komunitas yang telah hidup bersama laut selama berabad-abad, tidak memegang senjata. Mereka tidak memiliki program nuklir. Tetapi mereka sudah menanggung beban perang yang tidak mereka ciptakan.
Yeremia melihat ini dengan jernih. Kekerasan yang dilakukan oleh pihak-pihak berkuasa selalu melukai yang paling jauh dari pusat kekuasaan terlebih dahulu. Burung-burung terbang meninggalkan tempat yang manusia jadikan medan perang. Gunung-gunung berguncang bukan karena kehendak mereka sendiri. Bumi sunyi senyap bukan karena ia memilih untuk diam, tetapi karena ia dihancurkan oleh kebisingan perbuatan dosa manusia.
“Keamanan Nuklir” sebagai Wacana yang Menutupi Kebenaran
Satu hal yang perlu dicermati oleh komunitas Kristen adalah cara perang ini dibingkai oleh wacana dominan. Framing yang beredar luas adalah: ini adalah konflik tentang keamanan nuklir. Amerika Serikat dan Israel menyatakan tujuan mereka adalah mencegah Iran membangun senjata nuklir. Iran menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil.
Framing ini secara sistematis menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar. Perang AS-Iran ini telah menyebabkan apa yang oleh Badan Energi Internasional digambarkan sebagai “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.” Blokade maritim memicu “darurat pasokan pangan” di seluruh negara-negara Teluk, yang bergantung pada Selat Hormuz untuk lebih dari 80% asupan kalori mereka; pada pertengahan Maret, 70% impor pangan kawasan itu terganggu. Ini bukan hanya kerusakan geopolitik. Ini adalah pemutusan paksa dari rantai kehidupan yang menopang jutaan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Ketika wacana “keamanan nuklir” mendominasi, ia secara tidak langsung melegitimasi logika kekuasaan imperial yang menganggap kehancuran ekologis, kematian komunitas pesisir, dan penderitaan non-manusia sebagai harga yang “dapat diterima” dari kepentingan strategis. Ini adalah dosa struktural yang mewujud dalam bahasa diplomatik yang terdengar masuk akal.
Gereja dipanggil untuk membongkar wacana ini. Bukan karena gereja anti-keamanan atau anti-perlucutan senjata, melainkan karena gereja bersaksi bahwa tidak ada kepentingan manusia yang cukup besar untuk membenarkan penghancuran ciptaan Allah yang dikatakan-Nya “sungguh amat baik” itu. Nilai sebuah terumbu karang bukan ditentukan oleh kontribusinya bagi GDP kawasan itu. Ia baik adanya semata-mata karena Allah telah menyatakannya baik.
Tanggung Jawab yang Terjalin: Gereja Tidak Boleh Diam
Yeremia mengakhiri penglihatannya dengan sebuah frasa yang mengejutkan: “Karena beginilah firman TUHAN: seluruh negeri itu akan menjadi tandus, tetapi Aku tidak akan membuatnya musnah sama sekali.” (Yer. 4:27). Di tengah gambaran kehancuran total, ada penyangkalan yang tegas: Allah tidak berkehendak pada pemusnahan mutlak. Ada batas yang Allah tetapkan pada kekerasan manusia. Ada janji pemulihan yang tersimpan di dalam penghakiman.
Tetapi janji itu tidak datang secara otomatis. Ia datang melalui pertobatan yang radikal dari logika yang menghasilkan kehancuran.
Oleh karena itu, bagi komunitas Kristen di Indonesia dan di seluruh dunia, perang AS-Iran bukan sekadar berita geopolitik yang jauh. Ia adalah cermin yang memperlihatkan doktrin yang kita anut tentang ciptaan, keselamatan, dan siapa yang dihitung sebagai “korban yang penting.” Ketika gereja hanya berdoa bagi “perdamaian antar bangsa” tanpa menyebut nama terumbu karang yang sekarat, tanpa meratapi padang lamun yang terancam, tanpa bersolidaritas dengan komunitas nelayan yang kehilangan lautnya, jangan-jangan gereja sedang mereproduksi dualisme antagonistik yang sama yang melahirkan perang itu sendiri.
Dengan demikian, tanggung jawab kita bukan sekadar individual. Dalam kerangka entangled responsibility ekoeklesiologi Suar Suaka, setiap komunitas iman adalah bagian dari jaringan keterhubungan yang lebih luas. Doa untuk perdamaian tidak bisa dilepaskan dari advokasi terhadap kebijakan energi yang mengakhiri ketergantungan dunia pada minyak fosil, karena akar dari perang Teluk Persia yang berulang-ulang sepanjang sejarah selalu berjalin dengan ketergantungan itu. Serangan AS-Israel terhadap Iran dan serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk di sekitarnya telah menunjukkan sekali lagi bahwa ketergantungan kita pada bahan bakar fosil adalah ancaman konstan bagi perdamaian, keamanan, dan kesejahteraan ciptaan.
Panggilan yang Mendesak
Burung-burung di Yeremia 4 terbang meninggalkan bumi yang dilanda oleh perang AS-Iran. Di Teluk Persia hari ini, burung-burung migran yang biasa melintas di atas Selat Hormuz dalam perjalanan mereka antara Asia Tengah dan Afrika kini terbang di atas perairan yang dipenuhi asap, minyak, dan reruntuhan kapal. Mereka tidak memiliki ideologi. Mereka tidak punya pihak dalam konflik ini. Tetapi mereka menanggungnya.
Jika Gereja adalah komunitas seluruh ciptaan, maka jeritan burung-burung itu adalah bagian dari ibadah kita juga. Keluhan Bumi yang kembali menuju kekosongan adalah liturgi yang menuntut respons.
Komunitas Kristen dipanggil untuk: pertama, menolak wacana yang mereduksi perang hanya menjadi urusan antar-manusia dan memisahkannya dari kehancuran ekologis yang ia hasilkan. Kedua, bersolidaritas dengan komunitas-komunitas yang paling terdampak seperti nelayan, penduduk pesisir, masyarakat yang bergantung pada ekosistem laut, sebagai bentuk kasih yang melampaui batas negara dan identitas. Ketiga, mendorong gereja-gereja untuk berbicara dengan lantang tentang perlunya transisi energi yang adil sebagai bagian dari tindakan iman yang nyata, bukan semata-mata kebijakan teknis.
Dalam iman Kristen yang sejati kita tidak dapat mengasihi Allah yang menciptakan Teluk Persia sambil diam membisu ketika Teluk itu dihancurkan oleh Perang.
Sebar kabar keselamatan Gereja Seluruh Ciptaan!


