Loading Now

Penamaan dan Kesepadanan Ekoteologis dalam Kejadian 2:20

A close up head portrait of young Adam and Eve side by side, surrounded by silhouettes of forests and grazing animals, in the style of church stained glass mosaic
Para penafsir konvensional seringkali memaknai penggalan ayat Kejadian 2:19-20 dalam relasi kuasa yang timpang. (Santo) Agustinus dari Hippo, misalnya, mengatakan dalam tafsirannya tentang kitab Kejadian bahwa dalam peristiwa penamaan itu "Allah menunjukkan kepada manusia bahwa ia lebih baik dari ternak dan hewan-hewan lain yang tidak berakal budi itu." John Calvin dalam tafsirannya melihat bahwa peristiwa tersebut menekankan adanya sebuah struktur kepatuhan hewan-hewan kepada sang Manusia (Adam), yang bahkan ia perluas juga untuk menetapkan posisi inferior Perempuan dalam struktur kepatuhan tersebut. Kedua ahli teologi termasyhur ini ternyata terjebak juga pada cara pandang yang hierarkis dalam memahami Alkitab. Hal ini berkebalikan dengan perspektif ekoteologi yang Alkitabiah.

Dalam jebakan hierarkisme seperti ini, mereka memaknai bahwa tindakan manusia menamai hewan-hewan merupakan bukti bahwa manusia diposisikan oleh Allah “sudah dari sananya (sejak penciptaan)” lebih tinggi dari hewan dan ciptaan lain. Unsur-unsur ciptaan selain manusia ditempatkan sebagai yang lebih rendah dari sang Manusia. Nama Hawa bahkan dianggap bukti bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki. Maka terbayanglah sebuah khayalan hierarkis yang menempatkan manusia laki-laki sebagai yang tertinggi, disusul oleh perempuan, dan hewan-hewan pada posisi terbawah. Semua argumen ini didukung oleh ayat tentang penamaan Adam terhadap hewan-hewan dan Perempuan di Kejadian 2:20,23.

Padahal, pemahaman tersebut salah kaprah. Ayat ini tidak membenarkan manusia lebih tinggi dan berkuasa atas ciptaan lain, dan justru sedang menekankan nilai kesetaraan dalam keberagaman. Namun, kearifan ini sudah terkubur oleh pemahaman konvensional yang salah kaprah tadi.

Oleh karena itu, kita akan mencoba memilah hal-hal mana yang sebenarnya berkaitan dan mana yang tidak berkaitan dengan ayat tersebut. Ada dua kekusutan yang perlu dapat kita urai dalam artikel ekoteologi singkat ini. Pertama, Kejadian 2:20 tidak seharusnya secara langsung dihubungkan dengan Kejadian 1:26. Kedua, tindakan penamaan Manusia terhadap hewan-hewan tidak seharusnya dilepaskan dari kisah pencarian Tuhan akan penolong yang sepadan bagi Manusia. Dengan mengurai kekusutan itu, kita akan dapat lebih memahami perihal kesepadanan dan tindak penamaan ini.

Memilah Dua Kisah Penciptaan

Salah satu alasan kebingungan orang-orang dalam memahami Kejadian 2:20 adalah ketika menanggap Kejadian 1:1 hingga Kejadian 2:25 sebagai satu kisah yang berkesinambungan. Kesalahan paham ini mencampuradukkan dua kisah berbeda sehingga pemaknaannya menjadi keruh. Pencampuradukkan ini juga terlihat dalam tulisan Agustinus dan Calvin. Mereka menafsirkan kitab Kejadian dengan asumsi kuno yang mengatakan bahwa seluruh kitab Kejadian ditulis oleh satu orang saja, Musa. Hal ini dapat dilihat di tulisan tafsiran mereka masing-masing tentang kitab Kejadian).

Kejadian 1 dan Kejadian 2

Sebenarnya pada pasal-pasal pembuka kitab Kejadian ada paling sedikit dua kisah penciptaan yang berbeda. Untuk membaginya, kita dapat melihat lebih dekat ayat-ayat berikut: Kejadian 1:1-2:3 dan Kejadian 2:4-25 masing-masing dapat berdiri sendiri. Setiap penggalan dapat dipahami tersendiri karena keduanya merupakan dua kisah penciptaan yang berbeda. Masing-masing ditulis oleh dua penulis berbeda, dalam konteks yang berbeda, dan dengan maksud yang berbeda juga.

Penulis kedua kisah tersebut juga tidak tunggal. Kita bisa memerhatikan bahwa pada kisah penciptaan yang pertama, dalam versi Terjemahan Baru, disebutkan bahwa “Allah” yang menciptakan segala sesuatu. Sedangkan, pada kisah penciptaan yang kedua kita tidak menemukan penyebutan “Allah” saja, melainkan “TUHAN Allah”. Istilah “Allah” diterjemahkan dari kata “Elohim” sedangkan kata “TUHAN” sebenarnya merupakan terjemahan dari nama “YHWH”. Perbedaan penyebutan ini memang berasal dari dua komunitas yang berbeda, yang bahkan datang dari dua masa yang teramat jauh.

Secara waktu, kedua kisah ini terpisah ratusan tahun lamanya. Menurut ahli sejarah Alkitab, Kejadian 1:1-2:3 ditulis sekitar abad keenam SM, sedangkan Kejadian 2:4-25 ditulis sekitar abad kesepuluh atau kesembilan SM. Jadi, Kejadian 2 sudah ditulis setidaknya tiga ratus tahun sebelum kisah penciptaan yang kita kenal di pasal 1. Perbedaan ini penting untuk pemahaman kita.

Pembedaan ini menunjukkan betapa pentingnya kita tetap menyadari kekhususan konteks yang membentuk masing-masing kisah penciptaan tersebut. Kesalahan pemahaman tentang kedua kisah ini akan membawa pemaknaan yang salah juga, seperti yang dilakukan oleh Agustinus dan Calvin tadi. Pemahaman yang salah itu memaknai konsep “ketidaksepadanan” dari sudut pandang hierarkis sebagai inferioritas ciptaan lain di bawah manusia. Tindakan penamaan Adam juga dipahami sebagai bukti penguasaan Manusia terhadap mereka. Dengan demikian, pemaknaan itu melontarkan Kejadian 2:20 mundur sejauh tiga ratus tahun, kembali pada Kejadian 1:26. Mereka membangun sebuah narasi tentang kekhususan manusia di antara ciptaan lain dalam sebuah struktur hubungan yang timpang.

Mengurai Kekusutan Narasi Kuasa

Tiga adegan penciptaan

Setelah memperjelas posisi kesejarahan teksnya, maka Kejadian 2:20 dapat kita tempatkan secara lebih jelas juga. Kisah pertama adalah bagian dari kisah penciptaan yang kedua. Kita juga dapat membagi kisah penciptaan itu menjadi tiga adegan, di mana masing-masing adegan memiliki titik utamanya masing-masing.

Pada adegan pertama, ditunjukkan gambaran tentang bumi yang kosong, lalu muncullah kabut yang naik membasahi permukaan bumi yang kosong itu. TUHAN Allah lalu membentuk seorang (satu) manusia dari tanah dan menghembuskan nafas kehidupan. Adegan pertama ini menunjukkan kekosongan di bumi, yang lalu diisi pertama kali oleh sang Manusia, sebagai ciptaan sulung TUHAN Allah.

Pada adegan kedua, TUHAN Allah membuat taman Eden dan menempatkan sang Manusia yang dibuatnya itu di taman Eden. Situasi pada adegan ini sudah berkebalikan dengan kekosongan permukaan bumi di adegan pertama tadi. Bumi sudah dipenuhi dengan berbagai pohon buah-buahan, termasuk pohon kehidupan dan pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Di sanalah TUHAN Allah menempatkan menugaskan Manusia untuk memelihara taman tersebut. Adegan kedua ini menunjukkan penciptaan pepohonan dan berbagai tanaman bagi Manusia itu.

Kemudian tibalah kita pada adegan ketiga. Adegan ini dimulai dengan ujaran TUHAN Allah bahwa manusia memerlukan penolong yang sepadan. Demi pencarian penolong bagi Manusia itu TUHAN Allah membentuk segala binatang dari tanah, sama seperti bagaimana Manusia dibentuk-Nya. Kemudian TUHAN Allah membawa mereka semua ke hadapan sang Manusia itu. Ternyata pencarian itu tidak berhasil menemukan penolong yang cocok bagi sang Manusia itu. Lalu TUHAN Allah membuat Manusia tidur, dan membangun seorang Manusia baru dari rusuk Manusia yang pertama itu. Menutup adegan ini, maka Manusia menemukan penolong yang sepadan itu bagi dirinya.

Kejadian 2:20 dalam Adegan Ketiga

Dengan membagi kisah penciptaan ini menjadi tiga adegan, Kejadian 2:20 adalah bagian dari adegan ketiga. Pada adegan ini TUHAN Allah sedang “mencarikan” penolong yang sepadan bagi sang Manusia. Hal ini berarti dua hal. Pertama, penamaan dan kesepadanan itu harus dipahami dalam hubungannya dengan adegan kedua, yaitu di mana TUHAN Allah menugaskan Manusia untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden. Kedua, pemaknaan kita tentang penamaan dan kesepadanan juga harus berangkat dari kesadaran bahwa TUHAN Allah tidak sedang menyodorkan hewan-hewan kepada sang Manusia untuk dikuasai, melainkan untuk menjadi penolong bagi Manusia.

Struktur naratif yang seperti inilah, bersama dengan kesadaran sejarah di bagian sebelumnya tadi, yang harus menjadi konteks di mana penamaan terhadap hewan-hewan dan konsep tentang kesepadanan harus dipahami. Struktur ini penting untuk memahami kesepadanan yang dimaksud dan dalam konteks seperti apa hewan-hewan itu diciptakan, didatangkan, dan dinamai.

Merajut Kembali Narasi Ekoteologi Kesetaraan

Penelusuran di atas telah membawa pemahaman baru tentang dua hal. Pertama, kisah penciptaan yang tertulis di Kejadian 2:4-25 mendahului kisah penciptaan yang ada di Kejadian 1:1-2:3 sejauh tiga ratus tahun. Kedua, Kejadian 2:20 secara khusus terletak pada adegan ketiga dari kisah penciptaan itu, di mana TUHAN Allah diceritakan telah menciptakan dan menawarkan hewan-hewan itu sebagai penolong bagi Manusia. Kesadaran tentang konteks sejarah dan naratif inilah yang perlu kita bawa untuk menarik makna yang sesungguhnya tentang tindakan penamaan dan konsep kesepadanan.

Implikasi Pemaknaan Baru

Penamaan Manusia terhadap hewan-hewan bukanlah tanda penundukan, melainkan tanda keterhubungan hewan-hewan dengan manusia. Pemaknaan ini dapat kita temukan dengan memisahkannya dari kisah penciptaan yang pertama di Kejadian 1:26 dan menghubungkannya kembali sesuai tempatnya secara naratif dengan kisah penciptaan yang kedua di Kejadian 2. Ada dua hal yang lantas muncul dari pemaknaan ini.

Pertama, penamaan ini tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab sang Manusia untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden. TUHAN Allah membawa hewan-hewan ke hadapan sang Manusia oleh karena Ia melihat tidak baik kalau Manusia itu seorang diri saja. TUHAN Allah melihat Manusia itu memerlukan penolong setelah Manusia mendapatkan tugas untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Oleh karena itu, kehadiran para hewan dan dan penamaan mereka itu perlu kita maknai dalam bingkai tanggung jawab pengusahaan dan pemeliharaan Manusia terhadap lingkungannya.

Kedua, jika hewan-hewan itu dikirimkan sebagai penolong bagi manusia, maka penamaan tidak menandai inferioritas atau penundukan. Penamaan justru menunjukkan adanya sebuah hubungan persaudaraan antara manusia dan hewan-hewan, di mana TUHAN Allah membentuk hewan-hewan itu dengan cara yang sama dengan bagaimana Ia membentuk Manusia (Kej.2:19). Manusia dan hewan adalah saudara yang sama-sama lahir dari tanah, sama-sama dibentuk oleh tangan Allah.

Penamaan adalah Peristiwa Kesepadanan

Dengan demikian, kesepadanan (dan ketidaksepadanan) juga perlu dipahami kembali melalui kesadaran yang demikian. Kesepadanan yang sedang diceritakan pada kisah penciptaan yang kedua ini tidak ditempatkan dalam sebuah konteks penundukan yang hierarkis, melainkan dalam konteks pencarian penolong yang cocok bagi Manusia. Oleh karena itu, pencarian penolong yang sepadan ini juga harus dipahami bersejajaran dengan penugasan TUHAN Allah bagi Manusia untuk mengusahakan dan memelihara Taman Eden.

Pertama, kesepadanan ini tidak dibicarakan dalam sebuah bayangan yang hierarkis sehingga ketidaksepadanan hewan-hewan bagi Manusia bukanlah bukti inferioritas. TUHAN Allah sama-sama membentuk dan menawarkan hewan-hewan dan Manusia yang perempuan itu kepada Manusia sebagai penolong. Penolong tentu tidak juga dipahami sebagai yang inferior melainkan sebagai yang setara, yaitu sebagai rekan. Hewan dan manusia setara karena sama-sama dibentuk dari tanah, sebagaimana Manusia perempuan itu setara dengan Manusia laki-laki karena yang perempuan dibentuk dari sisinya.

Kedua, kesepadanan ini merupakan sebuah kondisi yang harus dipenuhi agar Manusia dapat menjalani tugasnya untuk mengusahakan dan memelihara alam ciptaan. Walaupun hewan dan manusia adalah setara, Manusia laki-laki tetap mendapati kesepadanannya pada Manusia yang perempuan dan bukan pada hewan-hewan itu. Hal ini perlu kita pahami sebagai sebuah pilihan yang didasarkan pada kesamaan tujuan. Pada adegan kedua kita telah melihat bahwa Manusia itu sajalah yang telah menerima tanggung jawab untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden.

Oleh karena itu, ketika TUHAN Allah membentuk hewan-hewan dan memberikannya bagi Manusia, hewan-hewan itu tidak secara langsung menerima mandat yang TUHAN Allah telah berikan kepada Manusia. Hanya ketika TUHAN Allah membangun Manusia yang perempuan itulah, Manusia yang laki-laki itu menemukan rekan yang telah sama-sama menerima mandat untuk mengusahakan dan memelihara alam ciptaan. Oleh karena itu, kesepadanan dan ketidaksepadanan bukanlah tentang tinggi atau rendahnya derajat hewan dan manusia, melainkan tentang penerimaan mandat dari TUHAN Allah untuk mengusahakan dan memelihara alam ciptaannya.

Kesimpulan

Dengan kesadaran ini, kita dapat memahami penamaan dan kesepadanan bukan sebagai pernyataan hierarkis tentang superioritas manusia terhadap hewan-hewan dan alam ciptaan. Penamaan manusia terhadap hewan-hewan bukan penanda superioritas manusia terhadap ciptaan lainnya melainkan tanda persaudaraan sebagai yang dibentuk oleh Allah dari tanah. Kesepadanan ekoteologi tidak berbicara tentang derajat, melainkan tentang kesamaan tujuan dan tanggung jawab yang telah diberikan TUHAN Allah bagi manusia untuk memelihara alam ciptaan.

Jebakan bingkai pemaknaan yang hierarkis dalam memahami kisah penciptaan adalah kesalahan pemahaman yang harus diluruskan. Pelurusan ini harus diperjuangkan demi mengembalikan pemahaman kita tentang bentuk kasih Allah yang tidak hanya terbatas pada manusia saja, melainkan yang menjangkau seluruh ciptaan. Pemahaman yang benar tentang kisah penciptaan kita ini akan menjadi pondasi kesadaran yang lebih mendalam tentang dimensi-dimensi ekologis yang tidak terpisahkan dari kisah-kisah awal pembentuk dasar iman kita yang juga ekoteologis.