Apa Itu Ekoteologi dan Apa Pentingnya?
Pernahkah Anda bertanya, mengapa krisis lingkungan tidak juga selesai meski kita sudah mendengar khotbah tentang “mengelola bumi” sejak kecil? Atau mengapa alam tampaknya semakin jauh dari kehidupan gereja dan spiritualitas kita? Dalam pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, kita bertemu dengan sebuah istilah yang mungkin belum akrab di telinga banyak orang: ekoteologi. Artikel ini akan membahas secara sederhana: apa itu ekoteologi, bagaimana ia berkembang, dan mengapa hal ini relevan bukan hanya bagi aktivis lingkungan, tapi juga bagi setiap orang Kristen yang rindu menghidupi imannya dengan utuh, di tengah ciptaan, bukan di luar atau di atasnya.
Apa Itu Ekoteologi?
Secara sederhana, ekoteologi adalah cara berpikir teologis yang menghubungkan iman Kristen dengan keprihatinan terhadap lingkungan hidup. Dalam bahasa yang lebih lugas: ini adalah teologi yang peduli terhadap pohon, tanah, air, udara, binatang, dan seluruh ciptaan, bukan hanya manusia atau surga.
Bila selama ini teologi lebih banyak membahas keselamatan jiwa dan relasi manusia dengan Tuhan, ekoteologi memperluas cakupan itu: bagaimana hubungan kita dengan ciptaan juga mencerminkan relasi kita dengan Sang Pencipta.
Tapi ini bukan sekadar tambahan isu. Ekoteologi menantang kita untuk bertanya ulang:
- Apakah cara kita memahami Alkitab selama ini cukup adil bagi alam?
- Apakah gereja ikut ambil bagian dalam krisis ekologi, baik secara sadar maupun tidak?
- Apakah “menguasai bumi” (Kejadian 1:28) berarti mengeksploitasinya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang menjadi pintu masuk ekoteologi: bukan menolak iman, tapi memperluas dan memperdalamnya.
Latar Belakang Lahirnya Ekoteologi
Istilah ecotheology mulai dikenal sejak tahun 1960-an, terutama setelah kritik dari ilmuwan seperti Lynn White Jr. yang menyebut bahwa salah satu akar krisis ekologi adalah pandangan dunia Kristen yang terlalu menempatkan manusia sebagai pusat.
Meskipun tentu tidak semua setuju dengan kritik itu, banyak teolog mulai menyadari: ada luka dalam cara umat Kristen memahami relasi antara manusia dan ciptaan. Dan luka ini perlu disembuhkan, bukan dengan retorika romantik, tapi dengan perubahan cara berpikir dan beriman.
Dari Ekoteologi ke Ekoeklesiologi
Di titik inilah muncul istilah ekoeklesiologi. Bila ekoteologi berbicara tentang pemikiran iman yang ramah lingkungan, maka ekoeklesiologi berbicara tentang gereja sebagai komunitas yang hidup dalam relasi dengan ciptaan.
Ekoeklesiologi menolak pandangan bahwa gereja hanyalah soal manusia, bangunan, dan ibadah ritual. Ia bertanya:
- Bagaimana gereja bisa menjadi rumah bersama, bukan hanya bagi manusia, tapi juga bagi makhluk lainnya?
- Apakah struktur gereja mencerminkan kasih Kristus tidak hanya kepada jemaat, tapi juga kepada tanah tempat gereja itu berdiri?
- Dapatkah gereja menjadi tanda keselamatan ekologis, bukan hanya keselamatan individual?
Dengan kata lain, ekoeklesiologi adalah ekoteologi yang berinkarnasi dalam kehidupan gereja nyata, dalam liturgi, pelayanan, pendidikan, hingga pengelolaan ruang dan sumber daya.
Untuk melihat contoh konkret bagaimana narasi Alkitab bisa dibaca ulang secara ekologis, Anda bisa membaca artikel Bumi sebagai Tubuh Kristus: Menyatukan Ekologi dan Teologi dalam Perspektif Paulus, yang menunjukkan bagaimana kita bisa memahami istilah Gereja dan keselamatan yang tidak terbatas hanya pada manusia saja, akan tetapi mencakup seluruh ciptaan.
Mengapa Ekoteologi Penting Bagi Kita?
Ada beberapa alasan mengapa ekoteologi (dan ekoeklesiologi) tidak bisa kita abaikan:
1. Krisis Ekologi adalah Krisis Iman
Ketika hutan dibakar, sungai tercemar, dan udara kotor, kita tidak hanya menghadapi masalah teknis, tetapi juga masalah spiritual. Iman yang benar seharusnya menghasilkan tindakan kasih yang nyata, termasuk bersama dengan bumi.
2. Alkitab Penuh dengan Ciptaan
Dari taman Eden di Kejadian, hingga langit baru dan bumi baru di Wahyu, Alkitab bukan buku yang hanya berisi manusia. Ia penuh dengan simbol, pohon, tanah, air, angin, binatang, semuanya bagian dari narasi keselamatan.
3. Iman Kristen Bukan Hanya Soal Akhirat
Ekoteologi mengingatkan kita bahwa keselamatan bukanlah “pelarian” ke surga, tapi pembaruan seluruh ciptaan di sini dan sekarang. Ini selaras dengan doa Yesus: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi…”
Selipan Suar Suaka: Iman sebagai Tanggung Jawab Relasional
Di Suar Suaka, kami percaya bahwa iman Kristen bukan sekadar percaya, tapi bertanggung jawab, bukan hanya kepada Tuhan, tapi juga kepada ciptaan-Nya.
Kami menyebutnya sebagai “tanggung jawab iman yang relasional”: iman yang lahir dari kasih, dijalankan dalam relasi, dan diarahkan pada keutuhan hidup bersama semua makhluk. Ini bukan teologi hijau tempelan, tapi cara baru memahami iman secara utuh dan menyeluruh.
Jika Anda ingin tahu lebih jauh tentang kami, silakan kunjungi halaman Tentang Kami dan kenali bagaimana Suar Suaka memperjuangkan iman yang terhubung dengan bumi.
Lalu, Apa Langkah Kita Selanjutnya?
Mungkin kita belum tahu harus mulai dari mana. Tapi pertanyaan “Apa itu ekoteologi?” bisa jadi titik awal untuk menyelami kembali iman kita. Bukan untuk menggantinya, tapi untuk memurnikannya dari kepicikan dan membuka ruang bagi kasih yang lebih luas, kasih yang menjangkau tanah, air, dan udara.
Bagaimana bila mulai hari ini, kita mulai memperhatikan bagaimana gereja kita berbicara tentang alam?
Atau lebih dari itu, bagaimana cara kita menghidupi iman di tengah dunia yang terluka ini?
Apakah iman Anda hanya menyentuh langit, atau juga menyentuh tanah yang Anda injak setiap hari?
Apakah Anda ingin mengeksplorasi lebih dalam tentang ekoteologi atau bentuk-bentuk spiritualitas ekologis lainnya? Kunjungi berbagai Renungan, Berita, dan Tafsiran di situs Suar Suaka, dan temukan bagaimana Alkitab berbicara bukan hanya tentang surga, tapi juga tentang Bumi dan segenap ciptaan.

